Saat Saya Berubah Pikiran (BBM Naik - 2)
Kalau melihat keatas, manusia memang tidak pernah puas. Selalu ingin lebih. Saya terus-terusan ingin enak kemana-mana dengan mobil ataupun motor pribadi. Sampai lupa, itu hanya kepuasan pribadi. Lupa, kalau bahan bakar mobil / motor yang saya nikmati sebagian besar adalah uang masyarakat kelas bawah.
Entah, saya merasa berdosa dengan masyarakat di kampung saya. Mereka begitu gigih mempertahankan profesi mereka sebagai petani. Tapi, tak kunjung bisa memiliki kendaraan pribadi. Mereka berusaha agar harga beras stabil di pasaran, agar orang kota bisa tetap menikmati nasi dengan harga murah. Mereka digencet dengan harga pupuk yang terus mahal. Mereka rela dipaksa menanam benih padi yang secara jangka panjang merusak lahan hanya demi peningkatan hasil panen.
Padahal, hanya ada sekolah dasar di kampung itu. Untuk melanjutkan ke tingkat SMP, mereka harus menempuh perjalanan diatas 5 Km menuju sekolah terdekat. Sudah jauh, bangunannya pun seadanya. Fasilitas yang ada sangat terbatas. Jangankan ruang UKS, untuk buang air saja di sawah. Baru sekolahan, belum yang lain.
Saya yakin, tak sedikit jumlah kampung yang sama dengan kampung saya di Indonesia ini. Jumlah penduduk yang sejenis dengan warga kampung saya pun jumlahnya pasti lebih besar, dibandingkan jumlah penduduk yang sejenis dengan saya ataupun diatas saya. Tapi, yang lebih sedikit ini, yang sudah lebih menikmati kemewahan, begitu ribut saat bensin akan naik. Lupa, kalau subsidi bensin jauh lebih besar dibanding subsidi pupuk.
“Saya setuju premium naik,” kata saya.
“Lho, kan merugikan. Pasti harga-harga ikut naik.” Istri saya menjawab.
“Bahkan sebenarnya pemerintah bodoh!”
“Katanya setuju, gimana sih?”
Kalau pemerintah cerdas, tidak perlu ada subsidi premium. Tapi sekalian stop produksi dan stop gunakan premium. Produksi kembali bensin jenis premix. Biarkan premix dijual sesuai harga pasar. Jadi, di pom bensin yang dijual selain solar adalah premix, pertamax, dan pertamax plus. Subsidi tetap perlu dilakukan untuk minyak tanah dan solar. Tekan harga solar, karena berhubungan langsung dengan distribusi dan transportasi publik. Biarkan subsidi untuk premium dialihkan untuk solar, minyak tanah, pupuk, pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, atau yang lainnya yang strategis untuk publik.
“Lha, kita gimana?”
“Bukannya kita berkali-kali juga pernah menggunakan pertamax? Malah lebih irit dan lebih bagus untuk mesin kendaraan.” Saking aja waktu itu yang ada cuma pertamax dan pertamax plus. Kalo ada premix, pasti kita beli premix.
“Trus, BLT?”
“Ah, dari dulu itu pengalihan subsidi yang gak cerdas. Tolak!”
Seringkali saat di pom bensin, ataupun sekadar melewatinya, banyak mobil-mobil mewah ikut antri premium. Padahal mobil tersebut keluar dari pabrik sudah di setting untuk berbahan bakar oktan tinggi (diatas premium). Dalam mobil mewah itu umumnya hanya terisi 2-4 orang maksimal. Di jalan-jalan pun begitu. Banyak mobil-mobil baru berseliweran. Didalamnya hanya ada satu orang, pengendara mobil itu sendiri. Perlukah mereka naik mobil itu? Perlukah satu orang punya satu motor?
Popularity: 21% [?]
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.
Comments
Nah ini salah satu pemikiran yang perlu tindak lanjutnya. Dan technically, mesin2 mobil atau kendaraan di atas tahun 2000 sudah direkomedasikan untuk menggunakan bensin tanpa timbal (pertamax or pertamax plus).
Dari efek lingkungan emisi dari produk dengan timbal akan mengurangi daya regenerasi sel otak, berefek pada kesuburan, masalah pernafasan, dll.
Sebenarnya solar pun akan berdampak yang kurang lebh sama. Hanya saja belum ada alternatif lain yang memberi pilihan pada masyarakat yang sebagian besar masih menggantungkan pada bahan bakar ini.
BTW, it was a good thought of you.
============
sebenernya udah. tapi masyarakat kita banyak yang OKB sih. jadinya pake mobil baru tapi masih pake bensin bertimbal. soalnya lebih murah. makanya, mending gak usah dijual lagi tuh bensin bertimbal. sekalian ke bensin tanpa timbal aja…
Skalian aja sech gk usah jual bensin dan stop mobil pribadi klu mreka gk punya lahan parkir.
Bila perlu ganti sepeda aja smua, back to Nature…
kekekkekekek
I agree with you bro…
heru,
masalahnya… dari jaman jebot di Indonesia ga ada tuh yang namanya subsidi BBM.
hehehehe,
ga tuh subsidi untuk BBM.
yang bener, BBM di Indonesia itu udah untuk bensar kok dengan dijual seharga 5 ribu/liter. dijual 2500 aja dah untuk 1500. gemana ya, sebenernya kita jangan mau terjebak pada persoalan subsidi BBM.
justru BBM yang mensubsidi sektor lain






[...] Bersambung ke sini… [...]